Sambutan Bupati Merauke Drs. John Gluba Gebze Saat Perpisahan Dengan Uskup J. Duivenvoorde, MSC

Pst. Jus F. Mewengkang, MSC

namekjggMerauke, MIRIFICA : Uskup J. Duivenvoorde, MSC telah mengakhiri masa tugasnya sebagai misionaris di Papua Selatan. Selama 42 tahun beliau berada di Tanah Papua, dan 32 tahun beliau sebagai Uskup di Keuskupan Agung Merauke. Hari minggu, 1 Agustus 2004 dibuat acarah perpisahan sederhana dengan umat, tiada kemewahan kecuali merayakan makan bersama dengan sagu zep (makanan tradisional), ubi dan sayur-sayuran. Kepribadiannya sungguh mengagumkan bagi banyak orang. Para pejabat dan tokoh agama datang memberi ucapan selamat jalan. Pada malam hari, tanggal yang sama, di biara MSC Merauke, Uskup sempat memberikan wejangan kepada para pastor, suster dan bruder.

Wejangan hidup yang merupakan refleksinya atas panggilan sebagai misionaris di Tanah Papua. Pada hari Senin, 2 Agustus, Uskup J. Duivenvoorde, meninggalkan tanah Papua dengan sebuah koper kecil. Tiada harta yang dibawanya dari Tanah Papua. Dia hanya membawa diri dalam keadaan tua, masa mudahnya hanya untuk Papua. Tangisan tak terelakkan di antara umat dan masyarakat kota Merauke. Kurang lebih 100-an orang berkumpul sekitar bandara Mopa. Pada masa tuanya, beliau mempersiapkan seorang Uskup baru. Pada tanggal, 25 July di Merauke telah ditabiskan uskup baru, yakni: Mgr. Nikolaus Adi Seputra, MSC.

Sambutan Bupati

Bapak Uskup yang kami kasihi, akhirnya kami harus berpisah dengan orang tua kami. Karya Gereja Katolik sudah hampir seratus tahun. Kami berharap bahwa karya 100 tahun itu dapat disaksikan oleh para pastor – suster yang masih hidup di negeri Belanda, mereka bisa datang bersama untuk merayakan kabar sukacita karya yang sukses ini. Bagi mereka yang mengalami tangan kasih dari Gereja Katolik pasti akan merasakan kebahagiaan.

Karena pastor, bruder, suster dan kaum awam yang telah rela berkorban meninggalkan tanah airnya untuk membawa peradapan baru yang dilakukan oleh kaum misionaris. Bagi mereka yang empedunya sudah tidak pait, barangkali tidak merasa pentingnya kehadiran misionaris. Anjing pun bisa berterima kasih, apalagi makluk manusia, makhluk mulia dapat merasakan kebaikan Tuhan. Dan itu adalah sebuah kutukan bagi mereka yang tidak mengakui karya besar. Orang-orang itu jangan sampai buta melihat karya agung yang kita rayakan. Jaman sekarang terjadi penghianatan anak-anak asli yang memiliki negeri.

Tugas saja sudah tidak betul, malah lebih memilih bersenang-senang, mendapat gaji buta lalu itu pula yang disebut pewaris tanah ini. Ini suatu penyangkalan terhadap tanah ini. Orang butapun merasakan karya-karya misionaris yang justru dituduh membasmi orang-orang Papua. Kalau ada yang masih menggunakan mulutnya, mungkin dapat menyatkan rasa tobatnya kepada Tuhan yang telah berbicara dengan bahasa yang lancang, walaupun salah. Tidak ada yang berharga, yang pantas yang kita bayar sama mereka, kecuali tanda terima kasih, kalau toh itu diterima. Jadi kami minta maaf kepada orang tua kami dan kami merasakan lebih banyak bukan sebagai Uskup, atau pastor tapi sebagai orang-tua, yang penuh kesadaran telah membentuk kami insan yang berbudi pekerti. Kalau ada barisan manusia budi pekerti itu, kami lah yang pernah mengalami pengetahuan budi pekerti di Gereja Katolik ini. Maka barisan kami harus tau berbalas budi.

Kami pada kesempatan ini menghaturkan maaf kepada bapak Uskup, dan meminta tinggalkan apa yang kurang berkenan di tanah ini. Kita juga memberikan hak hidup kepada Uskup yang masih bisa menikmati dengan teman-teman pastor dan keluarga di tanah Belanda. Kami sampaikan salam untuk Misionaris MSC. Karya Misionaris MSC yang telah membentuk kami dengan sisa pastor yang masih hidup dan para guru yang telah berada dalam managmen MSC. Ungkapan kasih ini kami sampaikan lewat silaturahami. Jadi kami sampaikan salam bagi para pastor, bruder yang telah mengabdi di tanah kami. Kami tidak bisa membalas jasa budi itu semua, tapi kami menjadi perwakilan dari yang pernah merasakan kasih sayang sejati, cinta kasih sejati para pastor, uskup dan bruder.

Kami sampaikan selamat jalan, doa kami, dan para leluhur kami bersuka cita. Karena bapak harus pergi dari kami semua. Kami mengiringi dengan doa, dan semoga perjalan ini merupakan yang menyenangkan. Kami telah menyampaikan terima kasih semua, namun ada yang tidak dapat diperintah ialah air mata, menangis merupakan hal yang tak dapat ditolak..(beberapa orang tak dapat menahan tangis) Mulut bisa berkata, tapi hati tidak bisa menipu lewat kucuran air mata kami, kami semua bersedih, kami telah merasa kehilangan orang tua yang sejati yang telah mengadakan kontrak hidupnya dari masa muda dari tahun 70-an. Pendampingan bapak telah menjadikan kami orang berguna bagi masyarakat dan Gereja. Selamat jalan orang tua terkasih kami, sekalipun tidak ada undangan selembar kertas tapi tanggal, 14 Agustus 2005 adalah hari yang kami nanti-nantiksn.

Mungkin masih ada juru kunci yang masih bekerja, yaitu Pastor Kees de Roij,MSC yang Tuhan telah siapkan juru kunci karya misionaris dari Belanda. Semoga Tuhan selalu senantia memberkati kita dalam menyongsong 100 tahun. Kita tidak merayakan keberhasilan tapi bagi mereka yang sudah merasakan maka itulah karya yang tak tertulis. Termasuk guru-guru. Jadi jangan sampai lupa bahwa tidak ada orang jadi pintar karena dirinya sendiri. Mari kita jadi insan yang tahu membalas budi orang. Selamat jalan orang tua terkasih kami dan semoga tiba di negeri Belanda dengan selamat. Kalau ada salah di antara kami, mulai dari masa kecil kami dalam pembinaan, kami menyampaikan maaf dalam proses-proses hidup kami. Dalam peralihan kepemimpinan gereja, maaf untuk adik-adik pastor khusus yang dari tanah ini, kami berharap supaya menyatukan barisan dalam satu semangat gerejani.

Kalau ada yang kurang dari karya Gereja Katolik itu tugas kami ke depan. Karena Gereja Katolik akan abadi karena estafet kami. Kalau ada yang kurang maka itu menjadi tanggung jawab kami. Gereja mandiri yang akan kita jalankan itu adalah integrasi semangat kita semua. Ada yang akan menjadi juru bangun, dan ada yang juru protes. Tapi Tuhan menciptakan manusia tidak sekedar juru protes. Kata-kata filsafat katakan bahwa tidak ada manusia di bumi ini membangun sebuah kehormatan hanya karena menjadi juru kritik. Hadiah nobel hanya diberikan kepada seorang yang membangun, karya kemanusiaan. Tidak ada yang tukang protes dapat piagam, kecuali dorang bergabung sendiri: tukang-protes dengan tukang protes saling memberi hadiah. Tetapi penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang bekerja. Musamus adalah prinsipnya, jangan lihat kerjamu tapi lihatlah hasilnya. Semut-semut kecil bekerja mengambil lumpur.

Dan tidak ada mata orang Merauke melihat semut-semut itu bekerja membangun sebuah sarang sampai 4 hingga 6 meter. Janganlah lihat kerjamu. Lihatlah hasilmu. Dan ini sudah ditunjukkan oleh Misionaris Katolik dan misionaris lainnya membangun di Tanah Papua ini, dan saya adalah Bupati dari tanah ini. Jadi kita tidak boleh mengecewakan mereka. Karena mereka telah menyatakan kasih sayang yang tulus.

Selamat jalan orang tua kami. Tante Tien (Ketua Panitia Pentabisan Uskup) bilang tidak boleh ada yang menangis (justru dia yang selalu menangis), tapi menangis itu tak dapat dibendung. Tangisan ini merupakan ungkapan rasa terima kasih kami kepada orang tua. Kami lebih merasakan beliau sebagai orang tua yang selalu membimbing kami. Karya belum selesai karena itu saya ajak kita semua bersatu. Selamat jalan bapak uskup kami… tepuk tangan para pengunjung.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s